Jadi Bukti Tertua di Dunia, Ini Temuan Kerangka Purba di Kalimantan

3 min read

Jadi Bukti Tertua di Dunia, Ini Temuan Kerangka Purba di Kalimantan

Jakarta – Kalbar.ac.id – Tahukah detikers bahwa bukti amputasi tertua di dunia ternyata ada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan. Bukti ini terdapat pada temuan kerangka berusia sangat tua yang terungkap pada 2020 lalu dalam penggalian arkeologi di Liang Tebo, Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.
Kerangka tersebut ditemukan oleh tim arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), FSRD Institut Teknologi Bandung (ITB), BPCB Kalimantan Timur, dan Griffith University Australia. Dalam temuan ini, terdapat sisa-sisa kerangka bagian kaki kiri bawah yang telah mengalami proses amputasi oleh “ahli bedah prasejarah” pada 31.000 tahun yang lalu.

Berkat penemuan ini, dapat diketahui bahwa Asia Tenggara telah mengembangkan pengetahuan dan teknis medis yang signifikan sebelum revolusi Neolitikum sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Kaki yang Diamputasi Secara Terampil
Tim peneliti Indonesia dan Australia menjelaskan bahwa kerangka tersebut adalah milik anak kecil yang kemungkinan laki-laki. Pada kaki kiri bagian bawahnya telah diamputasi secara terampil.

Meski operasi amputasi memiliki resiko mematikan karena kehilangan banyak darah dan infeksi, terdapat tanda-tanda pertumbuhan tulang kaki yang menunjukkan adanya perawatan dan pemulihan yang baik.

Bahkan, kaki bagian bawah kerangka itu dibedah tanpa membuat tulang kaki lainnya patah atau hancur. Peneliti juga menemukan pertumbuhan tulang yang tidak biasa pada fragmen tibia dan fibula yang tersisa.

Peneliti memperkirakan anak tersebut dapat hidup dengan jangka waktu yang lama setelah proses amputasi dilakukan.

“Ini adalah penemuan yang luar biasa, dan saya pikir ini konsisten dengan amputasi yang dilakukan melalui pembedahan, saya tidak bisa membayangkan apa yang telah dialami anak itu,” ucap Charlotte Roberts, seorang ahli bioarkelogi di Universitas Durham yang berspesialisasi dalam paleopatologi, dikutip dari Smithsonian Magazine.

Senada dengan Roberts, arkeolog Griffith University, Australia, Tim Maloney menerangkan bahwa operasi yang terjadi pada anak itu tidak berakibat fatal, tidak terinfeksi dan kemungkinan amputasi terjadi ketika masa kanak-kanak.

“Sangat tidak mungkin individu ini bisa selamat dari prosedur ini tanpa perawatan intensif, termasuk kehilangan darah dan manajemen syok, serta pembersihan luka secara teratur,” ungkap Maloney.

Ia mempercayai bahwa keberhasilan operasi ini tidak hanya terletak pada pembedahannya, melainkan masyarakatnya juga memiliki pemahaman tentang antiseptik dan mikroba dalam mencegah infeksi yang fatal pada pasien.

Hal tersebut dibuktikan dengan mencari makan dan lingkungan hutan menjadi keuntungan dalam penyembuhan.

“Mengingat orang-orang ini tinggal di daerah tropis, rumah bagi beberapa keanekaragaman hayati tanaman tertinggi, (jadi) banyak yang memiliki khasiat obat yang dikenal. Ada kasus yang kuat bahwa beradaptasi dengan lingkungan hutan hujan ini mungkin telah mendorong pengembangan pengetahuan medis tingkat lanjut termasuk pengolahan tanaman untuk pengobatan,” tutur Maloney.

Bukti Prasejarah Tentang Amputasi dan Operasi Lainnya
Meski relatif langka, bukti operasi peradaban prasejarah bukan hanya ada di Kalimantan. Terdapat beberapa bukti prasejarah tentang amputasi maupun operasi lainnya, yaitu:

1. Mumi Mesir diamputasi, yang menunjukkan adanya jari kaki palsu yang dipasang berusia 3.000 tahun.

2. Tengkorak dari pemakan Ukraina menunjukkan adanya trepanasi yaitu pelubangan yang dilakukan dengan mengebor tengkorak manusia. Ini telah dipraktekkan lebih dari 9.000 tahun yang lalu dan dilakukan juga oleh Yunani kuno hingga kekaisaran Inca.

3. Terdapat manusia di Spanyol Utara melakukan operasi telinga, dengan mengiris tengkorak pasien untuk menghilangkan rasa sakit.

4. Sekitar 7.000 tahun yang lalu, ahli bedah prasejarah melakukan tindakan amputasi pada lengan kiri seorang petani laki-laki tua.

Menurut ahli, adanya praktik teknik bedah medis maupun non medis sering dikaitkan dengan awal mula pertanian yaitu sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Namun, berbeda dengan kehidupan di Kalimantan, penggunaan keterampilan medis di antara para pemburu dan pengumpul sering berpindah-pindah. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya yang ada sudah cukup canggih telah berkembang.

Dibuktikan juga dengan adanya lukisan figuratif tertua di dunia yang ditemukan pada wilayah Kalimantan, yaitu lukisan binatang mirip sapi yang dilukis pada dinding gua sekitar 40.000 tahun yang lalu.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours